Kamis, 09 Februari 2012

BORDAN, SILANGAN BORNEO - MEDAN

Berikut adalah artikel dari Agrobis-Burung yang di up-load oleh Om Duto di blognya, "Klub Burung", tentang hasil silangan murai batu yang berasal dari daerah Medan dan Kalimantan (Borneo). Bentuk asli artikel ini berupa artikel hasil scan-an dari Agrobis-Burung yang terbit akhir Desember 2010. Mohon ijinnya ya Om Duto, karena saya pandang akan sangat bermanfaat bagi pecinta burung Murai Batu maka saya mohon ijin untuk menuliskannya kembali persis seperti aslinya. Dengan harapan bisa menambah wawasan kita tentang murai batu, khususnya murai batu hasil silangan murai batu Borneo dan Medan.Terimakasih.


SILANGAN MEDAN – BORNEO
VARIAN BARU UNGGUL DI MENTAL

Antusias kicaumania Bali untuk turun di kelas murai memang tidak se dahsyat di Jawa. Namun, bukan berarti kelas tersebut sepi peminat. Gregetnya tetap saja kuat. Bahkan beberapa pemain kini mulai memburu jago-jago baru. Pekan kemarin, ada transaksi di Bali hingga menembus Rp. 25 juta.

Dari jago-jago yang sering tampil di Bali, jenis murai Medan memang dominan. Sebut saja juara I dan runner up Gebyar  Tahun Baru Janger BC (26/12), T-Rex dan Tarsan. Keduanya besutan D’Yan Mengwi. Belakangan perpaduan Medan dengan Borneo tampil unggul seperti Red King. Juga dipoles D’Yan.

                          D'Yan

D’Yan kini mengoleksi puluhan murai. Tidak sebatas murai Medan tetapi juga perpaduan antara Medan dan Borneo. Kedua-duanya diakui memiliki keunggulan. Bahkan perpaduan antara Medan-Borneo diyakini lebih fighter jika bertemu lawan.

“Saat ini saya sedang mengembangkan murai Medan yang dikawinkan dengan cewek Borneo,” papar pemilik D’Yan BF. D’Yan juga mengembangbiakkan puluhan murai, cucak rowo, lovebird dan kenari.

Murai Medan juga berpeluang untuk menambah perbendaharaan breedingnya. Karena jenis ini dikenal mendominasi lomba terkini. Breeder ini rata-rata pejantannya pernah menjuarai minimal di ajang latber, juga bisa diorientasikan untuk basic kandang. Baik pejantan maupun betinanya.

Kelas murai di Bali diakui memang baru menyentuh level setengah dari jumlah gantangan. Namun harga bandrol baik piyik maupun bakalan serta burung juara tetap merangkak naik. Hal ini tidak terlepas dari langkanya murai tangkapan hutan yang dijual di pasar, membuat pemain hanya bisa mengharapkan dari  hasil ternakan. Dari pantauan di beberapa peternak murai, harga anakan dari indukan juara berkisar 1-1,5 juta seekor, dimana sebelumnya sepasang di kisaran 1,5 juta.

Naiknya harga piyik murai memacu peternak untuk lebih konsentrasi ke jenis tersebut. Selain D’Yan BF yang kini mengembangbiakkan 6 kandang, Ronggolawe BF yang sebelumnya menernakkan 5 kandang murai, 6 kandang cucak rowo serta beberapa lovebird, kini memfokuskan pada jenis murai batu dengan melego indukan cucak rowonya. “Selain cucak rowo mudah stress, biar lebih focus pada satu jenis”, papar Ba’awad memberi alasan seraya menambahkan anakan murai kini laris manis. Terlebih lagi diketahui indukannya pernah juara di lapangan. gde  




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar